Memaknai Idul Adha

Selama ini Ketika Idul Adha atau Idul Fitri datang seringkali kita menerima ucapan “Eid Mubarok”, atau selamat hari raya. Namun sepertinya terkadang kita lupa apa makna dari hari raya. Terlebih lagi apa sih makna Idul Adha yang baru kita jalankan kemarin.
Hari raya bagi umat muslim merupakan hari dimana kita menikmati kebahagiaan setelah mendedikasikan diri beribadah dan setelah pengorbanan atau melakukan sesuatu yang besar untuk yang maha kuasa. Agama Islam ada dua hari raya besar yakni Idul Adha dan Idul Fitri. Dimana keduanya dilakukan setelah melakukan pengorbanan besar.

Mari berbicara tentang idulfitri terlebih dahulu, pada bulan ke-9 pada kalender muslim (kalender Hijriah) yakni bulan Ramadhan. Dalam bulan Ramadhan para umat Islam berpuasa, dan  menjauhi hal-hal yang pada umumnya normal seperti air dan makanan yang pada umumnya kita makan di siang hari untuk menjadi lebih dekat kepada yang maha  kuasa.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk disiplin, karena dalam Islam sangat penting bagaimana kita mentaati perintah serta peraturan agama dan mengambil manfaat dari perintah itu. Setelah mendedikasikan dirimu untuk berdoa, beribadah ekstra dan berpuasa di bulan Ramadhan kamu dapat merayakannya Pada akhir bulan dalam hari yang sangat indah yakni Hari raya idul fitri. Di mana Hari itu kamu dilarang untuk berpuasa, kamu harus menikmati kebahagiaan hasil dari perjuanganmu dan pengorbananmu.

Pada bulan terakhir dari kalender Hijriyah atau yang biasa kita kenal dengan bulan Dzulhijjah, kita mendapatkan hari-hari keistimewaan lagi pada awal bulan tersebut hingga hari ke 9 atau 10, maka ada Puasa 10 hari bulan Dzulhijah . Dimana pada hari-hari tersebut Amalan kita sangat dicintai Allah.Disebutkan dalam sebuah hadits yang berasal dari Ibnu Umar ra. Nabi SAW bersabda,

Artinya: “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah).” (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)

Pada bulan ini kita akan merayakan hari raya Idul Adha, dimana kita mengingat tentang kisah pengorbanan Nabi Ibrahim yang harus mengorbankan anaknya Ismail. Kisah Ibrahim ini juga diceritakan di dalam Agama Yahudi dan Kristen walaupun yang dikorbankan bukan Ismail namun Ishak. Terlepas dari perbedaan keyakinan, hal ini membuktikan bahwa sebenarnya Ibrahim memiliki semangat pengorbanan yang tidak dapat dipungkiri dan benar-benar merupakan Bapak dari para nabi.

Pada agama manapun Nabi Ibrahim memiliki posisi yang tinggi, dihormati dan dikatakan dekat dengan yang maha kuasa.  Beliaulah yang membuat Ka’bah di Mekah sebagai rumah ibadah bagi untuk orang-orang Muslim untuk berkumpul dan menyembah yang maha kuasa dalam salah satu rukun Islam yaitu Haji. Beliau adalah sosok yang sangat dekat dengan Tuhan, dan Suatu hari Nabi Ibrahim mendapatkan mimpi untuk mengorbankan anaknya. Pernahkah kalian bertanya kenapa orang yang dekat dengan Tuhan saja masih diminta pengorbanan

Pada intinya semua itu datang dari yang maha kuasa dan akan kembali kepada yang maha kuasa. Ketika kamu terlalu terikat dan mencintai sesuatu maka hal itu akan menjadi sesuatu yang tidak sehat. Ketika sesuatu terjadi kepada yang kamu cintai itu keluarga dekat atau barang material Kamu tidak akan mampu bertahan hidup. Allah yang memberi, Allah juga berhak mengambil kembali.

Ibrahim dengan penuh kesadaran dan berserah diri melakukan perintah Allah untuk mengorbankan Ismail, dan ketika akan mengorbankannya Allah menyuruh nabi Ibrahim untuk mengganti ismail dengan hewan kurban. Dan hal ini di dilakukan kembali setiap hari Idul Adha untuk mengingat Semangat perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman dalam surat Al Hajj ayat 34:

Artinya: Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (QS. Al Hajj: 34)

Selayaknya hari Idul Fitri pada hari Idul Adha kita juga berbagi kebahagiaan, kita diminta untuk membagi hasil daging pengorbanan. Daging kurban dibagi kepada tiga kelompok orang yang berkurban dan keluarganya, kerabat teman dan tetangga sekitar, serta orang fakir dan miskin. Jadi pada hari ini kamu tidak hanya memperbaiki hubunganmu dengan yang di maha Kuasa, kamu juga memperbaiki hubunganmu dengan sesama manusia. Karena sesungguhnya kita semua sesama manusia adalah bersaudara walaupun berbeda agama dan keyakinan. Islam mengajarkan bahwa kita harus menghormati makhluk hidup bahkan hewan yang akan dikurbankan pun harus dihormati, apalagi sesama manusia. Janganlah kita saling merendahkan dan mencerca satu sama lain hanya karena berbeda keyakinan.

Kegiatan pemotongan hewan Qurban dengan tetap melaksanakan Prokes (Protokol Kesehatan) :

Rekan – rekan yang ingin memberikan donasinya, dapat menyalurkannya melalui rekening :

BPR Syariah Al Ma’soem dengan Nomor Rekening 002100016964
Bank Mandiri Syariah dengan Nomor Rekening 7888113341
Bank BNI Syariah dengan Nomor Rekening 0388732250

Atas nama Musa’adatul Ummah Al Ma’soem, semoga Allah ta’ala mengikhlaskan ucapan dan langkah-langkah kita untuk ikut serta meringankan beban sodara kita. Sesungguhnya Allah ta’ala Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Aamiin

Semoga hari raya Idul Adha mu menyenangkan dan jangan lupa untuk membagi kebahagiaanmu kepada orang lain.

Mungkin Anda juga menyukai