Adab dan Akhlak

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang dibekali akal agar dapat membedakan mana hal baik dan mana hal buruk guna dapat menjalankan tugasnya dengan baik, yakni sebagai khalifah di muka bumi.

Untuk menjadi khalifah yang baik dimuka bumi, sangat diperlukan akhlak dan adab yang baik. Mengapa demikian? karena dengan adanya akhlak dan adab yang baik kita dapat bersosialisasi, beradaptasi, dan juga dapat berinteraksi dengan baik kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan yang Maha ‘Esa. Dengan demikian, kita bisa menjalankan tugas dari Tuhan yang Maha ‘Esa dengan baik, yakni menjadi khalifah di muka bumi.

Perlu kita ketahui, Akhlak memiliki makna yang sama dengan Adab, yakni perangai atau tabiat (gambaran batin yang dijadikan tabiat bagi manusia). Akhlak () secara etimologi, berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari kata khu-lu-qun () yang berarti budi pekerti; perangai; watak; atau tabiat.

Menurut Imam Qurthubi, Akhlak/adab adalah sifat-sifat seseorang, sehingga dia dapat berhubungan dengan orang lain. 

Ibnu Miskawaih mengatakan akhlak dan adab sebagai :

“suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu tanpa berfikir atau direncanakan (terlebih dahulu).
Adalah suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu tanpa berfikir atau direncanakan (terlebih dahulu)”.

Menurut KBBI, akhlak adalah budi pekerti atau kelakuan. Adapun  adab menurut KBBI adalah kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan, akhlak.

Perlu diketahui bahwa akhlak terbagi menjadi dua yaitu akhlak yang terpuji (akhlaq mahmudah) dan akhlak yang tercela (akhlak madzmumah).

Meskipun sudah banyak yang tahu definisi dan makna dari akhlak atau adab, namun perlu diketahui, ternyata sampai saat ini masih terdapat banyak orang keliru dalam mengimplementasikan akhlak ataupun adab dalam kehidupan sehari-hari. Penulis akan mengambil beberapa contoh yang menurut penulis sangatlah mudah dipahami dan sering dialami oleh penulis maupun pembaca.

Contoh sederhananya seperti ini; banyak sekali orang yang keliru dalam menempatkan dan mengimplementasikan akhlak atau adab seperti pada lingkup suami dan istri, guru dan murid, orang tua dan anak, diri sendiri dan orang lain, serta pemimpinan dan anggota. Mari kita bahas satu persatu, kita cari tahu dimana letak kekeliruannya.

Yang pertama pada lingkup suami dan istri.
Di dalam Islam, kedudukan suami adalah sebagai kepala rumah tangga dan kedudukan istri adalah sebagai ibu rumah tangga. Dalam agama Islam, seorang istri diwajibkan patuh dan berakhlak baik kepada suaminya. perlu diketahui, sebaik-baik akhlak dan adab istri terhadap suami adalah dengan mematuhi apa yg diperintahkan suami.

Saking tingginya kedudukan suami terhadap istri, sampai-sampai Rasul SAW bersabda di dalam hadits:
  :
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Kalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka tentu aku sudah memerintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya”. [HR. At-Tirmidzi, no. 1159.

Artinya apa? Seorang istri harus memiliki akhlak yg baik dan rasa hormat yg tinggi kepada suami. Namun demikian, berakhlak dan beradab terhadap suami bukan berarti istri tidak boleh mengkritik suami, bukan berarti istri tidak boleh memberi masukan kepada suami, dan bukan berarti istri tidak boleh meluruskan suami disaat suami sedang berbuat suatu kesalahan. Perlu di ketahui, akhlak seorang istri yang baik terhadap suami adalah, mengkritik suami, menegur suami, memberikan masukan terhadap suami, dan juga meluruskan suami, disaat suami sedang khilaf berbuat salah.

Begitu juga dengan kedudukan guru dihadapan murid. Guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi dihadapan murid-muridnya karena telah banyak memberikan ilmu, baik ilmu untuk bekal di dunia maupun ilmu untuk bekal di akhirat.

Allah berfirman dalam surat al-Nahl ayat 43;

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu (agar diutamakan pandangannya).”(Riwayat Ahmad).

Artinya di dalam agama Islam, seorang murid sangat dianjurkan bahkan sangat diwajibkan untuk menghormati dan memuliakan guru. Karena kedudukan guru yang tinggi di hadapan murid maka diwajibkan untuk murid patuh, ta’at, berakhlak dan beradab baik kepada gurunya.

Namun ingat, guru juga manusia biasa yg bisa berbuat khilaf dan kesalahan. Perlu diketahui, sebaik-baiknya adab dan akhlak murid terhadap gurunya adalah ketika guru sedang khilaf dan berada di jalur yang tidak benar dan tidak lurus maka sang murid, wajib untuk mengkritik, mengingatkan, dan juga memberikan masukan terhadap guru (dengan cara yg baik) agar guru dapat kembali ke jalan yang di ridhoi Allah SWT.

Selanjutnya dalam lingkup orang tua dan anak. Memang sudah sepantasnya seorang anak harus tunduk, patuh, bakti, serta taat terhadap orang tua. Bahkan di dalam firmannya Allah Ta’ala mengatakan:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Artinya seorang anak diwajibkan untuk memiliki akhlak dan adab yang baik terhadap orang tua. Seorang anak tidak boleh membantah dan membangkang terhadap orang tua.

Walau begitu, bukan berarti seorang anak harus diam jika melihat orangtuanya sedang berada di jalan yang salah. Jangan pernah kita keliru menempatkan adab dan akhlak. Perlu diketahui, sebaik-baik adab dan akhlak anak terhadap orangtua, yaitu mampu mengkritik, meluruskan, serta berani memberi masukan kepada orang tua (dengan cara yang baik) agar orang tua juga bisa intropeksi atas kesalahan yang dilakukannya.

Kesimpulannya, jangan pernah kita salah menempatkan akhlak dan adab serta jangan sampai kita jadikan adab dan akhlak sebagai tameng untuk berbuat dzolim kepada diri sendiri dan orang lain. Selain itu, pesan moral dari tulisan ini adalah, jangan pernah kita takut untuk mengkritik, menasihati, meluruskan, dan memberi masukan kepada sesama manusia, siapapun dia, serta apapun pangkat dan jabatannya, karena agama adalah nasihat.

Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda :

“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

Selain itu, Rasul SAW juga bersabda:

Tidak ada ketaatan kepada makhluk di dalam maksiat kepada khalik”.

Itu artinya apa? Jangan pernah kita taat kepada makhluk (siapapun itu) jika itu bertentangan dengan syariat Islam, dan kita dibolehkan untuk melakukan kritik, memberikan ssran dan masukan, serta menegur siapapun makhluk yang berbuat salah.

Perlu diketahui, orang yang memiliki akhlak terpuji pasti sangat membenci segala sesuatu yang dinilai tidak pantas dan merugikan diri sendiri dan orang lain karena segala sesuatu yang dapat merugikan orang lain termasuk suatu kedzoliman.

Mungkin Anda juga menyukai