Cara Islami Menghadapi Pandemi

Pandemik adalah epidemi penyakit yang menyebar secara luas dalam skala dunia. Jauh sebelum dikenal istilah pandemik, pada zaman Rasulullah dikenal dengan wabah dalam Bahasa arab disebut (attho’uun). Maka, sesungguhnya upaya menghadapi pandemik itu telah ada pada zaman Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam menghadapi pandemik saat ini.

  1. Bagaimana harus bersikap?

Dalam hadist yang berbunyi:

Dari Siti Aisyah RA, ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha’uun, lalu Rasulullah SAW memberitahukanku, dahulu, tha’uun adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Maka tiada seorang pun yang tertimpa tha’un, kemudian ia menahan diri di rumah dengan sabar serta mengharapkan ridha-Nya seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan menimpanya selain telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,” (HR. Bukhari, Nasa’i dan Ahmad).

Dari hadist diatas kita bisa mendapat pengetahuan bahwa sesungguhnya  pandemik itu datang bisa menjadi bentuk azab,cobaan ataupun rahmat dari Allah SWT, maka sebagai umat islam tidak selayaknya kita beranggapan bahwa pandemik ini semata-mata adalah azab dari Allah SWT. Kita dapat berpikiran positif bahwa pandemik yang menimpa dunia saat ini adalah cobaan dari Allah untuk seluruh umat manusia. Sudah sepatutnya kita saling mendukung dan membantu satu sama lain.

Selain itu selama pandemik kita dianjurkan untuk tetap di rumah dengan sabar dan tentu senantiasa berdo’a.  Ketika kita tetap berdiam di rumah , kita bisa mengurangi penyebaran virus, dan mengurangi ketakutan untuk menularkan atau tertular orang lain.

  1. Bagaimana agar penyakit tidak menyebar?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Sudah jelas, bahwa jika diketahui ada penyakit menular di suatu tempat kita jangan datang ke tempat tersebut, atau jika kita berada di tempat tersebarnya penyakit tersebut kita tidak boleh keluar dari sana sampai penyakit menular itu hilang. Artinya kita dianjurkan mengisolasi diri agar penyakit tidak menular.

Meskipun, saat ini kita sudah memasuki new normal era. Kita sebaiknya tetap berhati-hati dalam bepergian. Apabila dirasa tidak terlalu urgent untuk melakukan perjalanan jauh, lebih bijak kita menunda perjalanan tersebut sampai keadaan jauh lebih aman.

  1. Bagaimana jika tetap harus bepergian ke luar rumah?

Memasuki new normal, aktivitas di luar rumah sedikit demi sedikit diberikan kelonggaran. Beberapa mall dan perkantoran kembali di buka. Tapi, kita harus ingat, new normal bukan berarti virus sudah menghilang. Ini hanya upaya pemerintah untuk kembali menghidupkan roda perekonomian masyarakat dan mau tidak mau kita memang harus segera kembali ke luar rumah untuk bekerja. Maka, tentu kita harus memperhatikan beberapa hal sebelum ke luar rumah.

Sebagaimana hadis yang berbunyi

Artinya: Rasulullah SAW berkata, “Kebersihan adalah sebagian dari iman dan Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah SWT) memenuhi timbangan, Subhanallah (Maha Suci Allah SWT) dan Alhamdulillah memenuhi celah antara dunia dan surga. Doa adalah petunjuk, amal adalah bukti keimanan, kemauan adalah cahaya, dan kitab suci Al-Qur’an adalah yang mendorong atau justru melawan kamu. Semua orang berusaha sebaik-baiknya sejak dini hari, yang kemudian bisa dilihat apakah meninggikan derajat atau justru merusaknya.” (HR Muslim).

Kita harus menjaga kebersihan, seperti rajin mencuci tangan, membawa hand sanitizer, menggunakan masker. Kita wajib mengikuti protokol kesehatan. Selain itu kita juga harus berdo’a karena usaha tanpa do’a tidaklah sempurna. Jika kita sudah berusaha dan berdo’a (ikhtiar) kepada Allah , maka langkah akhir adalah bertawakal (berserah diri) kepada-Nya.

Beberapa diatas adalah cara islami untuk menghadapi pandemik saat ini. Semoga kita semua tetap diberikan kesehatan dan tetap menjadi produktif meskipun dalam keadaan seperti ini.

 

 

Mungkin Anda juga menyukai