Empat Pilar Agama Islam

Agama Islam memiliki empat pondasi atau pilar. Pertama adalah Iman, kedua adalah syariat Islam, ketiga, Ihsan, dan keempat adalah keyakinan akan adanya hari kiamat dan hari sesudahnya. Keempat pilar tersebut tergambarkan dalam sebuah hadits yang sangat terkenal dan sahih diriwayatkan pada ahli hadits.

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya.

Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam. “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,” Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata, “Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.

Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”

Agama Islam memiliki empat pondasi atau pilar. Pertama adalah Iman, kedua adalah syariat Islam, ketiga, Ihsan, dan keempat adalah keyakinan akan adanya hari kiamat dan hari sesudahnya. Keempat pilar tersebut tergambarkan dalam sebuah hadits yang sangat terkenal dan sahih diriwayatkan pada ahli hadits.

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya.

Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam. “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,” Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata, “Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.

Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”

Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”

Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim]

Iman merupakan pondasi aqidah. Iman menjadi pondasi bagi semua perilaku orang yang beragama. Tanpa iman, agama menjadi kosong. Semua perintah dan larangan agama menjadi mentah jika tidak ada iman. Maka iman menjadi pondasi pertama bagi seorang yang hendak menyatakan diri beragama.

Iman dalam agama Islam ada enam: iman kepada Allah, iman kepada Malaikat-malaikat Allah, Rosul-rosulnya, kitab-kitab-Nya, iman pada hari akhir dan juga iman kepada Qodo dan Qodar. Ini kita kenal dengan rukun iman. Tidak ada toleransi dan diskon. Semua harus diimani tidak kecuali.

Pondasi kedua yaitu Islam. Disebutkan bahwa Rukun atau komponen pokok Islam adalah: Syahadatain, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menjalankan puasa Ramadhan, dan menunaikan Haji. Lima rukun ini menjadi komponen pokok dalam Islam dengan pintu masuk Syahadatain.

Tidak disebut Islam jika tidak menyatakan diri bersaksi bahwa Tuhannya adalah Allah tidak yang lain, dan Muhammad itu sebagai utusan, Nabi dan Rosul Allah SWT. Begitu masuk pintu syahadat, maka kewajiban syariat membebaninya, dari mendirikan shalat hingga menunaikan ibadah haji ke baitullah. Ini adalah syariat dasar dalam agama Islam.

Ketiga, pondasi agama Islam adalah Ihsan. Dinyatakan oleh Rosul bahwa ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah engkau tengah berhadapan dan bersitatap langsung dengan Beliau. Jika tidak engkau mampu demikian, maka keyakinan dalam hatimu tidak boleh tidak adalah bahwa Allah senantiasa ada bersamamu dan mengetahui semua hal-ihwal yang engkau lakukan.

Dengan dasar ihsan ini maka tidak mungkin seorang hamba main-main dalam kehidupannya. Karena tentu dia menginginkan yang terbaik dipersembahkan kepada Tuhannya dalam bentuk ketaatan. Orang yang berihsan atau yang disebut muhsin dalam bahasa arab adalah orang yang memperbaiki perilaku atau menyempurnakan perangai.

Ihsan sendiri berarti kebaikan atau kesempurnaan. Jadi sudah jelas kiranya, seorang muhsin selalu menghadirkan kesempurnaan dalam perilakunya. Minimal dia selalu berusaha melakukan yang terbaik, semaksimal mungkin yang dapat dia lakukan.

Terakhir dasar yang keempat, dalam hadits tersebut Jibril bertanya tentang hari kiamat dan tanda-tandanya. Maka satu hal yang kita bisa pahami, bahwa pondasi dasar agama kita yaitu keyakinan yang mutlak akan hadirnya hari akhir dan kehidupan setelahnya.

Ini merupakan ajaran pokok hampir semua agama, bahwa manusia akan mengalami hari setelah kematian yang merupakan tempat pertanggungjawaban dan pengadilan atas segala apa yang menjadi perangai manusia di bumi.

Dalam hadits tersebut dengan cukup jelas mengindikasikan bahwa Islam mengakui konsep hari akhir sebagai sebuah kepastian yang akan terjadi. Selain itu, disebutkan di sana beberapa tanda akan hadirnya hari kiamat, yaitu ketika para budak melahirkan tuannya, dan ketika orang miskin tiba-tiba menjadi kaya dan bersaing dalam kemewahan.

Dua tanda hari akhir itu jika hendak dirumuskan dalam nilai, maka kita bisa mengerti bahwa kiamat itu akan hadir ketika nilai dan orientasi perilaku manusia sudah terbalik-balik.

Ini mejadi semacam peringatan dan bahan permenungan bersama, agar para penganut agama tidak lalai, selalau ada peringatan yang menunjukkan bahwa hidup di dunia hanya sementara, jadi janganlah habiskan energi semata untuk dunia. Ada hidup kelak yang lebih baik dan lebih kekal.

Baiklah, mungkin penjelasan di atas sangat normatif. Tapi mari kita mencoba untuk menyadari satu hal, yaitu kenyataan bahwa kita saat ini tengah beragama Islam. Sebagai seorang muslim, satu hal yang patut menjadi perhatian adalah pertanyaan mengenai seberapa berkualitas diri kita sebagai muslim? Apakah kualitas kita baru sebatas iman.

Hanya percara tapi enggan mengikuti syariat? Atau kita berkualitas muslim syariat yang sebatas menjalankan kewajiban yang membebani diri kita sebagai seorang hamba?

Atau justru kita adalah seorang muhsin, yang selalu berusaha melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalan setiap perilaku kebaikan dengan keyakinan bahwa Allah selalu berada begitu dekat dan memperhatikan perilaku kita.

Di manapun posisi kita, yang jelas dan pasti, tentu kita tidak mau hanya menjadi bagian manusia yang selamat dengan cukup selesai menjalankan kewajiban, melainkan kita mesti terpacu untuk menjadi hamba yang utama dan mulia dengan meghadirkan banyak kebaikan dan kesempurnaan. Aamiin

Mungkin Anda juga menyukai