Pedoman Menghitung Zakat Emas, Perak dan Harta Dagangan

 

 

Zakat merupakan salah satu bentuk praktik ibadah yang dilakukan dengan jalan menyerahkan sebagian harta wajib zakat kepada salah satu dari delapan ashnaf zakat atau kepada pengelola zakat (amil). Ada sebagian zakat yang wajib disetor dalam bentuk barang, dan ada sebagian lainnya yang wajib disetor dalam bentuk nilai. Ini yang akan menjadi fokus kajian kita saat ini

Secara umum, zakat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1) zakat fitrah dan 2) zakat mal. Untuk zakat fitrah, sudah ada ketentuan yang berlaku dan disampaikan oleh masing-masing ulama’ madzhab. Mayoritas ulama madzhab menyatakan bahwa zakat fitrah wajib ditunaikan dalam bentuk penyerahan sebagian dari bahan pokok makanan sebesar 1 sha’, atau sejumlah 4 mud, atau kurang lebih 2.5 kg beras.

Zakat fitrah yang ditunaikan dengan menyerahkan uang (nilai) hanya dijumpai pada madzhab Hanafi, dengan standart pokok bahan makanan yang manshush, yaitu terdiri dari kurma, gandum merah, gandum putih, dan anggur. Memang ada khilaf di kalangan ulama’ kontemporer saat ini, akan kebolehan menyerahkan zakat itu dengan standart bahan pokok setempat.

Akan tetapi, khilaf ini (dalam hemat penulis) termasuk khilaf yang mu’tabar, sebab para ulama salaf sebelumnya juga pernah ada yang memiliki hasrat untuk menunaikan zakat fitrah dengan qimah (nilai uang). Misalnya, adalah al-Qaffal, salah seorang ulama kalangan Syafiiyah.

Karena merupakan khilaf mu’tabar, dalam hemat penulis, ada baiknya masyarakat lebih merujuk pada pendapat yang terkuat saja, yaitu menunaikan zakat fitrah dengan menyerahkan bahan makanan pokok. Penyerahan dalam bentuk nilai uang (qimah), hendaknya baru dipergunakan setelah benar-benar ditemui adanya dlarurat dan masyaqqah (berat) dalam menunaikannya.

Yang belum banyak diketahui masyarakat adalah zakat mal. Zakat mal ini terdiri dari 5 kategori barang yang wajib dizakati, antara lain hewan ternak (al-mawasy), barang berharga (al-atsman), tanaman (al-zuru’), buah-buahan (al-tsimar), dan harta dagang (‘urudl al-tijarah) (Kifayatu al-Akhyar, Juz 1, halaman 172).

Jika ditilik segi cara menunaikan zakat, dari kelima harta wajib zakat ini, yang jelas menunjukkan bahwa penunaiannya wajib dengan qimah (harga) adalah: al-atsman (emas dan perak) dan ‘urudl al-tijarah (harta dagang). Mengapa harus dengan qimah? Sebab qimah merupakan kalibrasi bagi kedua harta zakawi itu.

Seperti contoh kasus misalnya, untuk perhiasan emas. Adakalanya perhiasan emas terdiri dari emas murni dengan kadar yang berbeda. Ada yang kadar emasnya 75%, dan ada pula kadarnya 90%. Pertanyaannya, bagaimana cara menentukan nishab zakatnya? Syeikh Taqiyuddin al-Husny menjelaskan:

وأن يكون الذهب والفضة خالصين فلا زكاة في المغشوش منهما حتى يبلغ الخالص من الذهب عشرين مثقالا ومن الفضة مائتي درهم

Artinya: “Dan hendaknya emas serta perak itu, keduanya merupakan emas dan perak murni. Oleh karena itu, maka tidak ada wajib zakat bagi emas dan perak yang tidak murni sehingga mencapai harga nishab emas murni, yaitu 20 mitsqal (20 dinar), dan untuk perak sehingga mencapai harga 200 dirham.

Dalam ketentuan nishab zakat emas murni, zakat baru bisa dipungut setelah emas tersebut memiliki berat setara 20 mitsqal, setara harga 20 dinar, atau setara berat 85 gram emas murni. Demikian juga dengan perak murni, nishab zakat perak murni adalah setara harga 200 dirham, dan setara berat 595 gram perak murni. Darimana angka ini diketahui.

Perlu diketahui bahwa 1 dinar setara dengan 1 mitsqal, dan setara dengan 4,25 gram. Dengan demikian 20 dinar adalah sama dengan 20 mitsqal, dan sama dengan 4.25 gram x 20 dinar = 85 gram emas murni.

Bagaimana dengan berat dirham? Untuk menghitung berat nishab perak kita perlu memakai rujukan dari Kifayatu al-Akhyar, halaman 185, di mana Syekh Taqiyuddin al-Hushny menyampaikan sebagai berikut:

وأما الدرهم فهو ستة دوانق, وكل عشرة دراهم سبعة مثاقيل

Artinya: “1 dirham itu sama dengan 6 dawaniq. Sementara tiap-tiap 10 dirham adalah setara dengan 7 mitsqal.” (Kifayatu al-Akhyar, I, halaman 185).

Dengan dasar ini, maka dapat diukur bahwa 10 dirham adalah sama dengan 7 mitsqal, sama dengan 7 dinar, sama dengan 60 dawaniq. Dengan demikian, nishab perak seharga 200 dirham, adalah setara dengan 200 x 6 dawaniq, total 1.200 dawaniq perak.

Selanjutnya, mari kita konversi menjadi gram! Berbekal ibarat ini, kita bisa menghitung nishab perak dalam bentuk gramnya, bahwa untuk tiap-tiap 10 dirham adalah setara dengan 7 dinar. Dengan demikian, 1 dirham adalah setara dengan (7/10) dinar. Karena 1 dinar memiliki berat 4.25 gram, maka berat 1 dirham adalah setara dengan (7/10) x 4.25 = 2,975 gram. Alhasil, 200 dirham adalah setara dengan 2,975 x 200 = 595 gram perak murni.

Bagaimana bila emas atau perak itu terdiri atas emas dan perak tidak murni? 

Untuk perhiasan emas yang terdiri dari kadar emas yang berbeda persentase kemurniannya, maka harga perhiasan itu harus dihisab menyesuaikan kadar harga 20 dinar, atau setara harga 85 gram emas murni. Demikian halnya dengan perhiasan perak tidak murni, maka total seluruh perhiasan itu harus dihisab setara dengan harga 1.200 dawaniq perak, atau setara dengan 595 gram perak murni.

Jika harga emas hari ini adalah sebesar 706 ribu rupiah per gramnya, maka nishab harga perhiasan itu adalah harus standart dengan 706 ribu x 85 gram, yaitu total Rp. 60.010.000,-. Kurang dari harga ini, maka tidak ada ketentuan wajib zakat bagi perhiasan.

Adapun untuk perak, dengan harga kisaran per gramnya pada saat ini adalah sebesar 16.170 Rupiah, maka total nishab perak murni adalah setara 595 gram x 16.170, yaitu total Rp. 9.621.150,-. Kurang dari total harga ini, maka tidak wajib zakat bagi pemilik perhiasan tersebut.

Bagaimana dengan harta ‘urudl al-tijarah (modal dagang)? Harta ‘urudl al-tijarah, ketentuan zakatnya diqiyaskan dengan nishab emas. Dengan demikian, harta tersebut dikeluarkan, bilamana telah mencapai angka modal Rp. 60.010.000,-. Kurang dari nilai ini, maka pedagang tidak wajib dipungut zakat. Adapun bila lebih, maka cara penghitungan besaran zakatnya adalah menyesuaikan dengan penghitungan nishab.

Contoh:

Suatu modal dagang terdiri dari total harta modal sebesar 100 juta rupiah. Dengan demikian, ketentuan wajib zakatnya adalah dihitung 2.5% dikalikan dengan 100 juta rupiah, sehingga wajib mengeluarkan nilai uang sebesar 2.5 juta rupiah. Ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan Syafi’iyah.

 

Mungkin Anda juga menyukai